Sabtu, Januari 01, 2022

Tanya (Slyvia Saartje)


Title : TANYA
Album : MENTARI KELABU (1980)
Music : WILLY SUMANTRI
Recording : IRAMA TARA / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

Sylvia Saartje (lahir 15 September 1956) adalah seorang penyanyi rock berkebangsaan Indonesia. Sylvia merupakan penyanyi wanita Indonesia pertama yang diberi gelar Lady Rocker. Julukan tersebut diberikan pertama kali oleh majalah musik Aktuil pada tahun 1970an. Ia juga akrab dikenal dengan panggilan "Jipi", yang merupakan panggilannya oleh teman-teman dan kerabatnya. Ia adalah anak ke 2 dari 7 bersaudara pasangan Nedju Tuankotta yang berasal dari Ambon, Maluku dan Christina Tuyem yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Pada tahun 1962, keluarga Sylvia Saartje memutuskan untuk pindah dari Belanda ke Indonesia. Awalnya, mereka tinggal di Jakarta sebelum kemudian pindah ke Kota Malang.

diantara nada nada yang sumbang seakan paksa
ku melangkah dan melangkah diiringi berjuta tanda tanya

diantara wajah wajah yang layu tiada berdaya
ku melangkah dan melangkah bertemankan sejuta tanda tanya

oooo pada siapa ku bertanya
oooo pada siapa jawabannya
mengapakah kau bersedih
mengapakah kau merintih
mengapakah kau berduka
biarkanlah itu semua
biarkanlah itu berlalu
biarkanlah itu semua berlalu

diantara wajah wajah yang layu tiada berdaya
ku melangkah dan melangkah bertemankan sejuta tanda tanya

oooo pada siapa ku bertanya
oooo pada siapa jawabannya
mengapakah kau bersedih
mengapakah kau merintih
mengapakah kau berduka
biarkanlah itu semua
biarkanlah itu berlalu
biarkanlah itu berlalu
biarkanlah itu berlalu
biarkanlah itu berlalu

Jumat, Desember 31, 2021

Bila Kukenang (The Mercy's)


Title : BILA KUKENANG
Songwriter : REYNOLD PANGGABEAN
Album : POP INDONESIA VOL 12
Pengiring : RONALD (DRUM), ERWIN (LEAD GUITAR), RINTO (BASS), YOCKIE (KEYBOARD), 
Recording : YUKAWI INDO MUSIC / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

Pada volume 12 ini personil The Mercy's tinggal bertiga, setelah keluarnya Charles H, maka pada rekaman album ini dibantu oleh Yockie Suryoprayogo pada keyboard (yang lebih dikenal sebagai pemain keyboardnya rock-band God Bless), meski pada hasil rekaman, walaupun hasil rekaman suara keyboard tidak jauh beda dengan rekaman-rekaman bersama Charles H.

bila kukenang dirimu menitik airmataku
tiada lagi senyum manismu di sampingku

bagai angin lalu kau tinggalkan diriku ini
mengapa kau lupakan janji setiamu padaku

sungguh kejam dirimu meninggalkan daku oh sayang

bila kukenang dirimu menitik airmataku
tiada lagi senyum manismu di sampingku

bagai angin lalu kau tinggalkan diriku ini
mengapa kau lupakan janji setiamu padaku

sungguh kejam dirimu meninggalkan daku oh sayang

Kamis, Desember 30, 2021

Luka Hatiku (Sally Sardjan/The Singers)


Title : LUKA HATIKU
Lead Vocal : SALLY SARDJAN
Songwriter : JASIR SJAM
Album : DITINGGAL PERGI (1973)
Recording : MUSICA STUDIO/FM RECORD / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

The Singers adalah kelompok musik yang lahir pada tahun 1967 dengan personel Neneng Salmiah ( leader, rhythm, vokal), Tuty Thaher (bas, vokal), Sally Sardjan (organ, vokal), Henny Purwanegara (drum, vokal), Shinta Dungga (rhythm, vokal), dan Uun Syarbini (melodi). Secara resmi mereka mengumumkan terbentuknya The Singers pada Januari 1968, dengan mengusung aliran musik perpaduan latin dan sweet pop. Pada tahun yang sama pula The Singers masuk dapur rekaman untuk pertama kali dan memainkan lagu "Marlina" karya D. Djauhari, "Jali-jali " (Instrumental), "Land of 1000", "Dances", "Oh Tuhan", "Baby Your Gone", "Salam Perpisahan", yang dimainkan dalam bentuk Long Play. Pada masa itu The Singer mampu menarik penikmat musik tanah air dan mampu bersaing dengan grup band wanita lainnya seperti, Dara Puspita, Monalisa, Miscellina, dan The Beach Girls. Henny Purwanegara memilih hengkang karena terjadi konflik internal, disusul Shinta Dungga yang mengundurkan diri setelah pernikahannya. Mulai dari situ terus terjadi pergantian personel, nama-nama seperti Lies Royani, Iwan, dan Inneke Nasution pernah mengisi posisi kosong The Singers. Iwan menjadai satu-satunya personel lelaki. Selama pergantian formasi grup band ini berhasil mengeluarkan hit seperti " Derita Seorang Wanita", "Surat Putus Cinta", dan "Akhirnya".[1]

Tahun 1992, The Singers kembali ke panggung musik dengan formasi awal Neneng Salmiah, Tuty Thaher, Sally Sardja, Henny Purwanegara, Shinta Dungga, dan Uun Syarbini. Tiga tahun kemudian Uun Syarbini tutup usia karena kanker rahim. Tanpa Uun, band ini tetap tampil dengan mengisi acara hiburan seperti Melody Menari, Tembang Kenangan, dan Famili 100.

"suratmu tlah kubaca, dengan luka di hatiku"

dengar oh kasih, rintihan hatiku padamu
pedih oh pedih kau tinggalkan diriku
aku yang hina ini oh kasih
mengharapkan kau kembali kepadaku

sayang kau pergi membawa luka di hatiku
bila ku kenang janji yang kau ucapkan 
kepadaku sungguh lembut 
terdengar kau berjanji kan setia kepadaku

dengar oh kasih rintihan hatiku padamu
bila ku kenang janji yang kau ucapkan
kepadaku sungguh lembut 
terdengar kau berjanji kan setia kepadaku

Selasa, Desember 28, 2021

Sekuntum Kemboja (Mus Mulyadi)


Title : SEKUNTUM KEMBOJA
Songwriter : MUSTAFA WIRYAT
Album : TIADA CINTA LAGI
Backing Music : THE SHEEP'S (Leader: MUS MULYADI)
Recording : MUSICA STUDIO / INDRA RECORD / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

Mus Mulyadi (14 Agustus 1945 – 11 April 2019) adalah penyanyi keroncong Indonesia. Ia bahkan mendapat julukan sebagai si "Buaya Keroncong". Beberapa lagunya yang menjadi hit antara lain, "Kota Solo", "Dinda Bestari", "Telomoyo", dan "Jembatan Merah". Ia pernah menjadi anggota Favourite's Group. Istrinya juga seorang penyanyi, Helen Sparingga, dan adiknya juga menjadi penyanyi pop & jazz Mus Mujiono pada era 1980-an.

Terlahir dengan nama Mulyadi, dilahirkan di Kota Buaya, dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di kota itu. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara anak dari pasangan Ali Sukarni dan Muslimah. Bakat seninya tumbuh secara otodidak karena pengaruh dalam keluarganya yang memang seniman. Meskipun ia tidak pernah dirancang oleh ayahnya yang berprofesi sebagai pemain Gamelan untuk mengikuti jejaknya. Tiga saudaranya memilih berkecimpung dalam bidang seni tarik suara. Dua kakaknya yakni Sumiati berprofesi sebagai penyanyi keroncong di Belanda dan abangnya Mulyono dikenal di Surabaya sebagai penyanyi keroncong. Selain itu adiknya Mus Mujiono pun pada akhirnya terjun ke dunia musik dengan memilih musik jazz dan pop sebagai jalur pilihan kariernya

matahari mulai terbenam, burungpun sudah bersembunyi
seakan dunia ini sepi, tiada teman diriku

sekuntum kemboja mengintai dibalik daunnya
oh sayang sayang, seakan malu memandangku memandangku

kuhampiri dan menyentuhnya, kubelai kusingkir daunnya
hingga tampak bunga yang mekar dan bersemi

aku tak akan memetiknya, biarlah kau puas memandang
mungkinkah kau tahu hatiku yang selalu sepi sendiri

sekuntum kemboja mengintai dibalik daunnya
oh sayang sayang, seakan malu memandangku memandangku

kuhampiri dan menyentuhnya, kubelai kusingkir daunnya
hingga tampak bunga yang mekar dan bersemi

aku tak akan memetiknya, biarlah kau puas memandang
mungkinkah kau tahu hatiku yang selalu sepi sendiri

Lonceng Maut (Bob Tutupoly)


Title : LONCENG LAUT
Songwriter : TUTY MUTIA
Album : CIUM & SAYANG
Backing Music : THE CLAN (Leader: ACIL BIMBO)
Recording : REMACO / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

Bobby Willem Tutupoly (lahir 13 November 1939) adalah seorang artis Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Bob Tutupoly. Ia mulai rekaman di Jakarta pada tahun 1965 bersama Pattie Bersaudara. Selanjutnya, ia dikenal dengan lagu-lagu Lidah Tak Bertulang, Tiada Maaf Bagimu, Tinggi Gunung Seribu Janji, dan lain-lain.[1]

Namun ia lebih tertarik menyanyi. Akhirnya ia bergabung Bill Saragih di band The Jazz Riders pada 1960.

Pada 1969 ia pergi ke Amerika Serikat dan memimpin sebuah restoran milik Pertamina di kota New York. Setelah kembali ke Indonesia pada 1977, ia menjadi populer karena membawakan lagu Widuri, ciptaan Slamet Adriyadi, yang menjadi sangat terkenal hingga saat ini.[2] Ia juga memandu acara kuis di TVRI.

Bob Tutupoly adalah anak kedua dari lima bersaudara, pasangan perantau asal Maluku Adolf Laurens Tutupoly dan Elisabeth Wilhemmina Henket-Sahusilawane. Ia dilahirkan di RS William Booth, Jalan Diponegoro, Surabaya pada tanggal 13 November 1939.[3] Bob memiliki seorang kakak yang bernama Christian Jacobus Tutupoly dan tiga orang adik yang bernama Alexander Bartjes Tutupoly, Hendrika Laurensia Tutupoly, dan Adolf Tutupoly Jr. (meninggal pada tahun 1947, saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Yogyakarta).[3] Ayahnya telah berdinas di Angkatan Laut sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia dan terus membela TNI ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Bob dan keluarganya sempat berpindah ke Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota RI, sebelum akhirnya kembali ke Surabaya pada tahun 1953 dan memasuki bangku Sekolah Dasar di SD Pasar Turi.[3] Sejak kecil, Bob dan keempat saudaranya dididik dengan disiplin militer oleh sang ayah. Bakat seni Bob memang diwariskan dari kedua orang tuanya, ayahnya adalah pemain suling dan ibunya merupakan penyanyi di gereja.[3] Bob Tutupoly melanjutnya pendidikannya di SMP Kristen Embong Wungu, Surabaya dan SMA Katolik St. Louis, Surabaya. Ia sempat menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Ekonomi Surabaya (Cikal bakal Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga) dan Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung namun kedua terhenti di tengah jalan. https://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Tutupoly

Ketika menjabat sebagai public relation di Restoran Ramayana (NY), Bob berkenalan dengan seorang penari Indonesia bernama Rosmayasuti Nasution (Yosie) yang sedang tampil di tempat tersebut. Bob Tutupoly melamar istrinya pada tahun 1972. Istrinya tersebut merupakan None Jakarta 1972. Pada tanggal 15 April 1977, Bob dan Yosie resmi menjadi suami-istri di hadapan petugas catatan sipil. Pernikahan tersebut dihadiri oleh Adnan Buyung Nasution sebagai saksi atas keluarga Yosie dan Leo Lopusila sebagai saksi dari pihak Bob. Sebelumnya mereka berdua harus menjalani persidangan selama sembilan bulan dikarenakan perbedaan keyakinan yang mereka anut. Putri semata wayang mereka lahir di Jakarta pada tanggal 29 Januari 1978 dan diberi nama Sasha Karina Tutupoly.

jauh kumencarinya, lama nian kuberjalan
dendam dalam deritaku, gelisah tak menentu
andai kutemuinya malam kujadikan siang
namun hasrat dihatiku membara tiap waktu

walaupun kuberjalan tiap hari
luka dan sengsara menemaniku
kurela meneruskan perjalanan ku ini
menuju kearah citaku

Tuhan kau restuilah beri jalan dan panduan
semoga tercapai hasratku mencari keadilan

walaupun kuberjalan tiap hari
luka dan sengsara menemaniku
kurela meneruskan perjalanan ku ini
menuju kearah citaku

ooo ... walaupun kuberjalan tiap hari
luka dan sengsara menemaniku
kurela meneruskan perjalanan ku ini
menuju kearah citaku

Banner 468

must to search