Jumat, Desember 24, 2021

Menara Cinta (Bob Tutupoly)


Title : MENARA CINTA
Songwriter : WANDY
Album : CIUM & SAYANG
Backing Music : THE CLAN (Leader: ACIL BIMBO)
Backing Vocal : ...
Recording : REMACO / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

Bobby Willem Tutupoly (lahir 13 November 1939) adalah seorang artis Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Bob Tutupoly. Ia mulai rekaman di Jakarta pada tahun 1965 bersama Pattie Bersaudara. Selanjutnya, ia dikenal dengan lagu-lagu Lidah Tak Bertulang, Tiada Maaf Bagimu, Tinggi Gunung Seribu Janji, dan lain-lain.[1]

Namun ia lebih tertarik menyanyi. Akhirnya ia bergabung Bill Saragih di band The Jazz Riders pada 1960.

Pada 1969 ia pergi ke Amerika Serikat dan memimpin sebuah restoran milik Pertamina di kota New York. Setelah kembali ke Indonesia pada 1977, ia menjadi populer karena membawakan lagu Widuri, ciptaan Slamet Adriyadi, yang menjadi sangat terkenal hingga saat ini.[2] Ia juga memandu acara kuis di TVRI.

Bob Tutupoly adalah anak kedua dari lima bersaudara, pasangan perantau asal Maluku Adolf Laurens Tutupoly dan Elisabeth Wilhemmina Henket-Sahusilawane. Ia dilahirkan di RS William Booth, Jalan Diponegoro, Surabaya pada tanggal 13 November 1939.[3] Bob memiliki seorang kakak yang bernama Christian Jacobus Tutupoly dan tiga orang adik yang bernama Alexander Bartjes Tutupoly, Hendrika Laurensia Tutupoly, dan Adolf Tutupoly Jr. (meninggal pada tahun 1947, saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Yogyakarta).[3] Ayahnya telah berdinas di Angkatan Laut sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia dan terus membela TNI ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Bob dan keluarganya sempat berpindah ke Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota RI, sebelum akhirnya kembali ke Surabaya pada tahun 1953 dan memasuki bangku Sekolah Dasar di SD Pasar Turi.[3] Sejak kecil, Bob dan keempat saudaranya dididik dengan disiplin militer oleh sang ayah. Bakat seni Bob memang diwariskan dari kedua orang tuanya, ayahnya adalah pemain suling dan ibunya merupakan penyanyi di gereja.[3] Bob Tutupoly melanjutnya pendidikannya di SMP Kristen Embong Wungu, Surabaya dan SMA Katolik St. Louis, Surabaya. Ia sempat menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Ekonomi Surabaya (Cikal bakal Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga) dan Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung namun kedua terhenti di tengah jalan. https://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Tutupoly

Ketika menjabat sebagai public relation di Restoran Ramayana (NY), Bob berkenalan dengan seorang penari Indonesia bernama Rosmayasuti Nasution (Yosie) yang sedang tampil di tempat tersebut. Bob Tutupoly melamar istrinya pada tahun 1972. Istrinya tersebut merupakan None Jakarta 1972. Pada tanggal 15 April 1977, Bob dan Yosie resmi menjadi suami-istri di hadapan petugas catatan sipil. Pernikahan tersebut dihadiri oleh Adnan Buyung Nasution sebagai saksi atas keluarga Yosie dan Leo Lopusila sebagai saksi dari pihak Bob. Sebelumnya mereka berdua harus menjalani persidangan selama sembilan bulan dikarenakan perbedaan keyakinan yang mereka anut. Putri semata wayang mereka lahir di Jakarta pada tanggal 29 Januari 1978 dan diberi nama Sasha Karina Tutupoly.

kabut kabut malam jatuh ke bumi (jatuh ke bumi)
perlahan tapi pasti bagai sebuah janji
tatapan wajahnya teramat nyata (teramat nyata)
kupeluk ia mesra bahagia

tlah mekar bungaku indah harum mewangi
tersenyum berseri bahagai bidadari
(tiada seindah dia seharum dia 
menempuh hidup bersama membangun menara cinta)
diriku paling bahagia terlampau indah kurasa
menempuh hidup bersama membangun cinta

tatapan wajahnya teramat nyata (teramat nyata)
kupeluk ia mesra bahagia

tiada seindah dia tiada seharum dia
menempuh hidup bersama membangun menara cinta
diriku paling bahagia terlampau indah kurasa
menempuh hidup bersama membangun cinta
(tiada seindah dia seharum dia 
menempuh hidup bersama membangun menara cinta
diriku paling bahagia paling bahagia
menempuh hidup bersama membangun cinta)

Selasa, Desember 21, 2021

Nyanyian Malam (Emillia Conttessa)


Title : NYANYIAN MALAM
Songwriter : CHRIST PUTUHENA
Album : LEMPISI HITAM
Music : BARCE VAN HOUTEN
Recording : FLOWER SOUND / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

Emilia Contessa (lahir 27 September 1957) adalah seorang model, pemeran, penyanyi dan politikus Indonesia keturunan Jawa, Madura dan Pakistan.
Nama aslinya adalah Nur Indah Citra Sukma Hati, Emilia adalah putri sulung dari tiga anak dari Hasan Ali yang berdarah Pakistan-Madura dan RA Susiani yang berdarah Jawa-Banyuwangi. Ia suka menyanyi sejak kecil. Ibunya melakukan berbagai usaha agar Emil dapat tampil menyanyi di berbagai acara. Pada tahun 1969, Emil berhasil meraih juara umum penyanyi pop ketika Surabaya menyelenggarakan PON VII di Surabaya yang berlangsung Tanggal 26 Agustus – 6 September 1969 dengan juara umum DKI Jakarta. Ajang tersebut membuka jalan Emil menjadi penyanyi profesional.

Emil yang saat itu masih menggunakan nama Emilia Hasan diajak oleh pencari bakat dari Philips Singapura yang mengajak Emil untuk rekaman di Singapura pada tahun 1970.
Satu tahun di Singapura, Emil yang kala itu ditemani ibunya, kembali ke Indonesia. Emil kemudian diperkenalkan pertama kali lewat TV oleh Chris Pattikawa, yang memimpin acara hiburan di TVRI. Dengan nama baru Emilia Contessa, Emil pun langsung menanjak. Emil merupakan salah seorang dari sedikit penyanyi wanita negeri ini yang memiliki suara sopran yang sangat powerfull dan lantang. Emil juga memiliki performance atau stage-act yang sulit disaingi penyanyi mana pun pada masanya. Bahkan kala itu ia dijuluki sebagai Singa Panggung Asia oleh majalah Asia Week (1975). dan Majalah New York Time menobatkan Emil sebagai satu dari lima artis terpopuler di dunia dan sempat mendapat beasiswa untuk belajar vocal di Amerika, tetapi karena sudah teken kontrak dengan Club Malam Tropicana, maka beasiswa tersebut tidak diambil. Tetapi kariernya terus menanjak hingga ke Benua Eropa dan Amerika untuk show kecuali Afrika yang belum disinggahinya. Masa emas Emil adalah di pertengahan tahun 1970-an. Lagu-lagu Emil yang menuai sukses antara lain "Angin November", "Flamboyan", "Biarlah Sendiri", "Bunga Mawar, "Melati", "Rindu", "Bunga Anggrek", "Penasaran", "Kehancuran", "Layu Sebelum Berkembang", "Angin Malam", "Mungkinkah", dan banyak lagu-lagu ciptaan A. Riyanto lainnya. Sampai sekarang telah belasan album dihasilkannya termasuk album Islami Samudera Shalawat (2000).

tak pernah kau nyanyikan
lagu syahdu yang merdu darimu
hanyalah kau nyanyikan laguku
yang duka untuk hibur diriku

betapa rindu hatiku ini
bila kuteringat kisah hidupku
waktu kita slalu berdua
ouwoo mesranya

saat ini
kutunggu malam berganti
spanjang hari
aku berjalan mencarimu

engkau dimana ku sendiri sepi
ooo rinduku 
tega kau tinggalkan diriku begini

betapa rindu hatiku ini
bila kuteringat kisah hidupku
waktu kita slalu berdua
ooo mesranya

saat ini
kutunggu malam berganti
spanjang hari
aku berjalan mencarimu

engkau dimana ku sendiri sepi
ooo rinduku 
tega kau tinggalkan diriku begini
tega kau tinggalkan diriku begini

Ditinggal Pergi (The Singers)


Title : DITINGGAL PERGI
Lead Voca; : NENENG SALMIAH
Songwriter : NENENG SALMIAH
Album : DITINGGAL PERGI (1973)
Recording : MUSICA STUDIO/FM RECORD / Vinyl LP 12" 33 1/3 RPM

The Singers adalah kelompok musik yang lahir pada tahun 1967 dengan personel Neneng Salmiah ( leader, rhythm, vokal), Tuty Thaher (bas, vokal), Sally Sardjan (organ, vokal), Henny Purwanegara (drum, vokal), Shinta Dungga (rhythm, vokal), dan Uun Syarbini (melodi). Secara resmi mereka mengumumkan terbentuknya The Singers pada Januari 1968, dengan mengusung aliran musik perpaduan latin dan sweet pop. Pada tahun yang sama pula The Singers masuk dapur rekaman untuk pertama kali dan memainkan lagu "Marlina" karya D. Djauhari, "Jali-jali " (Instrumental), "Land of 1000", "Dances", "Oh Tuhan", "Baby Your Gone", "Salam Perpisahan", yang dimainkan dalam bentuk Long Play. Pada masa itu The Singer mampu menarik penikmat musik tanah air dan mampu bersaing dengan grup band wanita lainnya seperti, Dara Puspita, Monalisa, Miscellina, dan The Beach Girls. Henny Purwanegara memilih hengkang karena terjadi konflik internal, disusul Shinta Dungga yang mengundurkan diri setelah pernikahannya. Mulai dari situ terus terjadi pergantian personel, nama-nama seperti Lies Royani, Iwan, dan Inneke Nasution pernah mengisi posisi kosong The Singers. Iwan menjadai satu-satunya personel lelaki. Selama pergantian formasi grup band ini berhasil mengeluarkan hit seperti " Derita Seorang Wanita", "Surat Putus Cinta", dan "Akhirnya".[1]

Tahun 1992, The Singers kembali ke panggung musik dengan formasi awal Neneng Salmiah, Tuty Thaher, Sally Sardja, Henny Purwanegara, Shinta Dungga, dan Uun Syarbini. Tiga tahun kemudian Uun Syarbini tutup usia karena kanker rahim. Tanpa Uun, band ini tetap tampil dengan mengisi acara hiburan seperti Melody Menari, Tembang Kenangan, dan Famili 100.


tiada berarti kehidupan ini
setelah kau tinggal pergi
kini hancur sudah semua harapan
yang selalu kurindukan

kini ku seorang diri
tanpa belaian kasihmu
dalam hatiku kumenangis
bila teringat wajahmu
oh sayang kasihku

namun kusadari cintamu padaku
tiada dapat kulupakan

kini ku seorang diri
tanpa belaian kasihmu
dalam hatiku kumenangis
bila teringat wajahmu
oh sayang kasihku

namun kusadari cintamu padaku
tiada dapat kulupakan

Banner 468

must to search